Tampilkan postingan dengan label Pertanian. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Pertanian. Tampilkan semua postingan

BUPATI LAUNCHING POSKO KEKERINGAN PADA LAHAN PERTANIAN

    21.10   No comments
Bupati Djoko Nugroho didampingi Damdim 0721/Blora, Kepala Dinas Pertanian dan Kepala BPS, menyampaikan arahannya tentang upaya penanggulangan kekeringan pada lahan pertanian. (foto: humas)

BLORA. Pemerintah Kabupaten Blora, melalui Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Kabupaten Blora, Jawa Tengah, melaunching Posko Mitigasi Kekeringan pada lahan pertanian, di Aula Dinas Pertanian Dan Ketahanan Pangan, Selasa (23/7/2019)  .

Lauching tersebut secara langsung dilakukan oleh Bupati Djoko Nugroho, dengan didampingi oleh Komandan Kodim 0721/ Blora Letkol Inf Ali Mahmudi, SE, Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Ir. Reni Miharti M.Agr.Bus, Kepala BPS Blora Drs. Heru Prasetyo,.

Turut hadir perwakilan PUPR Blora, petugas Pengendali  Organisme Pengganggu Tanaman-Pengamat Hama Penyakit (POPT-PHP), dan sejumlah Staf Dinas Pertanian dan Ketahanan pangan.

Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Ir. Reni Miharti M.Agr.Bus dalam laporannya mengatakan, dalam rangka penanganan mitigasi bencana kekeringan diperlukan posko mitigasi bencana. Selain itu posko ini juga menindaklanjuti rapat di Kementerian Pertanian.

“Launching ini merupakan tindak lanjut rakor mitigasi di Kementerian Pertanian beberapa waktu lalu, posko ini untuk mengantisipasi dampak perubahan iklim, dan banyaknya kekeringan yang terjadi di wilayah,” ucap Ir. Reni Miharti M.Agr.Bus .

Reni mengatakan berdasarkan hasil identifikasi dan monitoring lapangan, di Kabupaten Blora pada tahun 2019 terdapat potensi kekeringan seluas 2148 hektare, dengan tingkat puso seluas 321 hektare.

“Jumlah tersebut mengalami penurunan jika di banding tahun 2018 dengan kekeringan seluas 3512 hektare dan luasan puso sebesar 561 hektare,” lanjut Reni Miharti.

Meskipun mengalami penurunan, pihaknya tetap mengantisipasi hal tersebut mengingat nantinya akan  berdampak pada luas panen dan total produksi di Kabupaten Blora pada tahun 2019 ini.

“Kami akan tetap petakan semua itu, sebab tahun ini luas tanam Kabupaten Blora pada bulan Oktober hingga Juni seluas 103.900 hektare dengan target target, 110.000 hektare,” ungkap Reni Miharti.

Bupati Djoko Nugroho dalam sambutannya mengatakan, tahun ini kekeringan yang terjadi di Kabupaten Blora tidak separah tahun tahun sebelumnya. Namun demikian, adanya posko kekeringan pada lahan pertanian ini tentu merupakan hal positif yang perlu di lakukan.

“Selain Posko Kekeringan pada lahan pertanian, juga ada posko air bersih yang dilakukan BPBD. Alhamdulillah, Blora sudah berubah, kekeringan yang terjadi juga tidak separah 2-3 tahun lalu, di sejumlah wilayah masih ada sumber mata air,” kata Bupati.

Dalam kesempatan ini, Bupati juga meminta, semuanya bisa belajar dan memahami akan prilaku alam yang terjadi saat ini agar bisa di terapkan di pertanian.

Bupati Djoko Nugroho bersama Dandim 0721/Blora, Kepala Dinas Pertanian, Kepala BPS dan pejabat terkait foto bersama di depan Posko Kekeringan yang didirikan di Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Kabupaten Blora. (foto: humas)
“Mungkin saat ini, air masih ada, tahun depan belum tahu, dan saya minta pemahaman ini juga dilakukan dalam pertanian, seperti menanam pada musimnya sehingga tidak terjadi kerugian yang besar,” jelas Bupati.

Bupati juga menjelaskan Kabupaten Blora setiap tahun mampu panen 600 ribu beras kering, dan hanya 24 persen hasil tersebut di konsumsi masyarakat Blora dan selebihnya di jual keluar wilayah Blora, hal ini menandakan Blora disektor pertanian mengalami kemajuan.

“Jika dibandingkan dengan daerah lain, Blora sudah semakin baik, sejumlah embung terbangun, bahkan di sejumlah wilayah juga baru dilakukan pembangunan embung, paling tidak embung tersebut bermanfaat pada sektor pertanian,” tutur Bupati Djoko Nugroho.

Bupati berharap acara ini nantinya bisa disosialisasikan kepada para petani, sehingga nantinya dalam menanam para petani tidak mengalami kerugian yang cukup besar dan bisa tepat pada musimnya.

“Saya harap usai acara ini nanti, penyuluh-penyuluh bisa mensosialisaikan kepada para petani, baik di seluruh wilayah Kabupaten Blora,” pinta Bupati.

Pada kesempatan itu Komandan Kodim 0721/ Blora Letkol Inf Ali Mahmudi, SE, mengaku kekeringan di Blora saat ini tidak seperti yang di bayangkan oleh Kementerian Pertanian, hal ini menunjukan adanya peningkatan.

“Kami ada tugas dalan pendampingan upsus Pajale (Padi Jagung Kedelai), peran kami dilapangan ikut bersinergi dengan Pemerintah Desa dan Pemerintah Kabupaten dalam perkembangan Pajale. Oleh sebab itu kami siap ikut mensukseskan apa yang menjadi program kementerian,” ungkap Dandim.

Diakhir acara, dilakukan sesi tanya jawab, dan dilanjutkan foto bersama di depan banner Posko  Kekeringan di Lahan Pertaninan Kabupaten Blora. (Tim Liputan Humas Protokol Setda Blora)

HADIRI SOROPADAN AGRO EXPO 2019, BUPATI : BLORA KINI SUDAH BEDA

    00.40   No comments
(foto:humas/dok)

TEMANGGUNG. Bupati Djoko Nugroho pada hari Kamis (4/7/2019) menghadiri pembukaan pameran produk unggulan pertanian tingkat Jawa Tengah "SOROPADAN AGRO EXPO 2019" yang diselenggarakan di Pusat Pelayanan Agribisnis Petani (PPAP) Agro Center Soropadan Kecamatan Pringsurat, Kab.Temanggung.

Pada event yang diikuti oleh 35 Kabupaten/Kota se Jateng tersebut, Kabupaten Blora melalui Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan juga ikut memamerkan aneka buah dan sayuran hasil bumi Blora.

Diantaranya buah Sawo Organik dari Desa Bangoan Kecamatan Jiken, Jambu Kristal dari Tempuran dan Tunjungan. Selain itu ada Jeruk Pamello dari Tempellemahbang, Jeruk Siam dari Tanggel Randublatung, Bawang Merah Besar dari Jepon, buah Alkesa dan beragam hasil olahannya.

Menurut Bupati, di ajang seperti inilah potensi Kabupaten Blora bisa ditampilkan dan patut bersaing dengan wilayah lain di Jawa Tengah. Dengan demikian bisa saling bertukar pengalaman bahkan menimbulkan semangat untuk terus mengembangkan produk hortikultura ini.

"Saya senang karena kini Blora bisa tampil beda. Blora yang dahulu hanya dikenal sebagai daerah kering, gersang dan hanya menghasilkan jati. Sekarang ternyata bisa memamerkan aneka buah-buahan unggulan yang berkualitas dan  tidak kalah dengan Kabupaten/Kota lainnya," ucap Bupati.

Menurutnya ajang Soropadan Agro Expo seperti ini sangat tepat untuk memperkenalkan dan mempromosikan Blora sebagai penghasil buah dan komoditas pertanian lainnya sebagai bukti bahwa kini Blora tampil beda.

"Beberapa pegawai provinsi tadi juga kaget, ternyata Blora bisa menghasilkan buah-buahan yang baik,” tambah Bupati.

Bupati juga menyampaikan bahwa buah lokal Blora sudah mulai berani bersaing, sejumlah varietas bahkan sudah memiliki sertifikat, adanya kegiatan ini tentu juga sebagai ajang promosi potensi di masing masing daerah dan Pak Gubernur sangat senang sekali seluruh potensi yang ada di daerah bisa ditampilkan.

Namun demikian, Bupati meminta agar para petani tidak berpuas diri dan bisa terus belajar dan belajar agar buah buahan lokal Blora semakin berkualitas dan dikenal kalangan masyarakat luas.

Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Kab.Blora Ir. Reni Miharti M.Agr.Bus mengatakan bahwa keikutsertaannya dalam pameran ini untuk memperkenalkan produk-produk unggulan hasil bumi dari Kabupaten Blora agar bisa lebih luas diketahui banyak orang. Tidak hanya kalangan konsumen saja, namun juga dunia usaha dan pelaku bisnis pertanian serta hortikultura.

"Tidak hanya di pameran Soropadan expo saja, kabupaten Blora juga sering ikut di sejumlah pameran pameran daerah lain seperti Bandung, Semarang dan kota lain" ucap Reni Miharti.

Reni Miharti lantas menjelaskan bahwa Blora saat ini tidak hanya dikenal dengan penghasil kayu jati namun juga sudah mulai beralih menanam buah buahan.

"Sawo bangowan jadi unggulan, selain itu juga ada buah buahan lain yang mulai nampak dan masyarakat mulai menanam varietas buah buahan lokal." sambungnya.

Selain menjual komoditas buah dan sayur, pihaknya juga menyajikan makanan olahan seperti dawet daun jati yang merupakan salah satu inovasi minuman khas Blora, serta gethuk eco. Acara akan berlangsung hingga Senin (8/7/2019).

Dalam acara Soropadan Agro Expo 2019 yang dibuka oleh Gubernur ini, juga dilakukan penyerahan berbagai penghargaan di bidang pertanian. Dimana Kabupaten Blora meraih juara II upsus padi jagung kedelai (pajale) terbaik yang diraih Kelompok tani Tambah Mulyo Desa Tanjung Kecamatan Kedungtuban. (Tim Berita Humas Protokol Setda Blora)

FESTIVAL BUAH LOKAL BLORA SUKSES DIGELAR DI PASAR SIDO MAKMUR

    13.00   No comments
Bupati Djoko Nugroho bersama Ketua Tim Penggerak PKK Kabupaten Blora Dra. Hj. Umi Kulsum melihat proses penilaian lomba durian yang dilaksanakan dalam rangka Festival Buah Lokal Blora. (foto: humas)
BLORA. Festival Buah Lokal Kabupaten Blora sukses digelar pada hari Rabu (30/1/2019). Bertempat di Pasar Sido Makmur Kelurahan Mlangsen, sejak pagi masyarakat umum mulai berdatangan karena ingin ikut menyaksikan festival sekaligus makan buah gratis.

Beragam komoditas buah lokal dan hortikultura disajikan dalam festival ini, seperti durian, sawo, pisang raja, pisang cavendis, hingga cabai merah. Semuanya dipamerkan kepada masyarakat, sedangkan khusus durian, sawo serta pisang raja dilombakan oleh Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan.

Peserta lombanya adalah para petani dari berbagai wilayah se Kabupaten Blora. Buah yang dilombakan ditata sedemikian rupa di lantai 2 aula pasar untuk dinilai juri. Sedangkan bazar buah digelar untuk umum di halaman tengah komplek Pasar Sido Makmur.

Keseruan semakin terasa ketika panitia membagikan durian lokal secara gratis untuk pengunjung  yang datang. Tidak butuh waktu lama, buah yang berbau tajam inipun langsung ludes dimakan pengunjung.

Bupati Djoko Nugroho bersama unsur Forkopimda, Tim Penggerak PKK, serta seluruh tamu undangan juga ikut mencicipi lezatnya durian lokal Blora. Bupati berharap kegiatan seperti ini bisa terus dilanjutkan sebagai upaya promosi sekaligus menyemangati petani untuk menanam buah.

"Festival Buah Lokal seperti ini sangat bagus untuk mempromosikan hasil hortikultura kita. Sekaligus mengampanyekan makan buah lokal kepada masyarakat. Ini merupakan bukti bahwa Blora tidak kalah dengan daerah lain dalam hal penghasil buah," ucap Bupati.

Bersama sama mencoba kelezatan durian lokal Blora dalam Festival Buah Lokal 2019. (foto: humas)
Bupati juga mengajak seluruh petani buah yang hadir agar menggunakan pupuk organik dalam membudidayakan tanaman buah. Pasalnya Bupati ingin seluruh hasil pertanian dan hortikultura Blora itu sehat dan bebas dari pengaruh pupuk kimia.

“Saya kemarin habis panen padi organik di Desa Bajo Kedungtuban. Ternyata hasilnya lebih banyak dan menyehatkan. Saya ingin pertanian organik ini juga diterapkan pada tanaman buah, “ lanjutnya.

Acaranya sengaja digelar di Pasar Sido Makmur karena Pemerintah ingin meramaikan pasar baru agar masyarakat lebih terbiasa datang ke pasar yang baru diresmikan Bupati pada tanggal 5 Januari lalu.

Sementara itu, Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan,  Ir. Reni Miharti, M.Ar.Bus menyampaikan bahwa kegiatan festival buah ini merupakan kali kedua di Kabupaten Blora.

“Tahun lalu kami selenggarakan di Pertokoan Blok S khusus tentang durian. Kemudian untuk kedua kalinya ini tidak hanya durian yang dilombakan, namun juga sawo dan pisang raja. Alhamdulillah banyak yang mengikuti, dari para petani lokal, “ ucap Reni Miharti.

Kepala Dinas Pertanian Ir. Reni Miharti M.Agr.Bus menyerahkan piala kemenangan kepada peserta yang menjuarai lomba buah. (foto: humas)
Adapun dewan juri diambilkan dari Provinsi Jawa Tengah. Sejumlah tiga juri menilai buah buahan yang dilombakan dari segi ukuran, ketebalan daging buah, rasa, bentuk buah dan warna. Setelah dilakukan penilaian, akhirnya ditetapkan pemenangnya sebagai berikut

Lomba Buah Durian
Juara I Durian milik Suwignyo dari Desa Karangjong, Kecamatan Ngawen
Juara II Durian milik Sarmin dari Dukuh Nglawungan Desa Tunjungan, Kecamatan Tunjungan
Juara III Durian milik Harsono dari Desa Karangjong Kecamatan Ngawen

Lomba Buah Sawo
Juara I Sawo milik Suwaji dari Kecamatan Todanan
Juara II Sawo milik Masrikan dari Desa Krocok, Kecamatan Japah
Juara III Sawo milik Yasmin dari Desa Dologan, Kecamatan Japah

Lomba Buah Pisang Raja
Juara I Pisang Raja milik Winarti dari Kecamatan Blora
Juara II Pisang Raja milik Suparlan dari Desa Wonosemi Kecamatan Banjarejo
Juara III Pisang Raja milik Triman dari Desa Beganjing Kecamatan Japah.

Seluruh pemenang memperoleh piala dan uang pembinaan dari Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan yang diserahkan langsung oleh Ir. Reni Miharti, M.Arg.Bus.

Suwignyo, peserta lomba durian yang memperoleh juara satu merasa senang karena ini merupakan juara kedua kalinya selama mengikuti lomba durian di tingkat Kabupaten Blora.

“Alhamdulillah bisa menang lagi, tahun lalu saat di Blok S juga menang. Semoga ini bisa menjadi penyemangat kami untuk terus membudidayakan durian lokal Desa Karangjong, “ungkapnya. (Tim Berita Humas Protokol Setda Kabupaten Blora)

BUPATI BERSAMA PERTAMINA LAKUKAN PANEN PADI PERDANA SRI ORGANIK

    13.00   1 comment
Bupati Djoko Nugroho bersama General Manager Pertamina EP Asset 4 Cepu dan pihak terkait melakukan panen perdana Padi SRI Organik  di Desa Bajo Kecamatan Kedungtuban. (foto: humas)
BLORA. Meskipun di sebagian besar wilayah Kabupaten Blora belum memasuki musim panen, namun para petani di Kecamatan Kedungtuban justru telah memulai panen padi. Seperti yang ada di Desa Bajo Kecamatan Kedungtuban, para petani yang tergabung dalam kelompok tani Bina Alam Sri mulai memanen tanaman padinya, Selasa (29/1/2019).

Bupati Djoko Nugroho pun hadir langsung bersama Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Ir. Reni Miharti M.Agr.Bus untuk mengikuti kegiatan panen perdana yang lokasinya tidak jauh dari Balaidesa Bajo itu.

Sejumlah pejabat dari PT Pertamina EP Asset 4 Field Cepu juga ikut melakukan panen perdana bersama. Pasalnya lahan sawah yang dipanen letaknya tidak jauh dari titik sumur migas NKT-A dan merupakan areal persawahan Program Pertanian Sehat Ramah Lingkungan Berkelanjutan, yakni sebuah program Coorporate Sosial Responsibility (CSR) dari Pertamina di bidang pertanian.

Setibanya di lokasi, tanaman padi yang ditanam dengan System of Rice Intensification (SRI) Organik langsung dipanen secara bersama sama oleh Bupati, pimpinan Pertamina EP 4 Cepu, Dinas Pertanian dan seluruh tamu undangan.

Ketua kelompok tani Bina Alam Sri, Surat menyatakan bahwa tanaman padi organik yang ditanam kali ini merupakan pertama kali hasil pelatihan dan pendampingan dari Pertamina serta Dinas Pertanian.

“Padi yang kami tanam adalah varietas Sintanur dengan menggunakan perawatan pupuk organik. Semua bahan pupuknya kita dapat dari alam sekitar, pupuk cair organik kita buat sendiri sesuai apa yang dilatihkan. Sehingga lebih hemat dan hasilnya lebih banyak, Alhamdulillah,” ujar Surat.

“Sawah yang sebelumnya menggunakan pupuk kimia hanya bisa menghasilkan gabah sebanyak 7 ton per hektar. Namun setelah kami mengenal pertanian organik yang ramah lingkungan ini, hasilnya bisa sampai 8 ton hingga 9 ton per hektarnya,” lanjut Surat.

Tidak hanya untung dari segi jumlah panen, namun juga murah karena semua pupuknya dibuat sendiri. Sehingga tidak perlu beli pupuk kimia yang mahal.

“Sudah tidak pakai urea lagi. Tanahnya juga lebih subur karena unsur haranya semakin banyak akibat pemberian pupuk organik. Terimakasih Pertamina dan Dinas Pertanian yang terus memberikan pendampingan dan pelatihan. Kami akan melanjutkan pertanian organik ini,” pungkasnya.

General Manager PT Pertamina Asset 4 Cepu, Agus Amperianto yang hadir langsung dalam panen itu menyampaikan bahwa program CSR Pertamina untuk para petani Desa Bajo, selain budidaya padi SRI Organik juga ada pelatihan penanaman sayuran organik dan tanaman obat keluarga (Toga) sebagai alternatif pengobatan tradisional yang menyehatkan.

“Kami berharap dengan adanya CSR ini dapat meningkatkan perekonomian para petani di Desa Bajo. Bisa meningkatkan pendapatan, dan memperkecil biaya produksi. Konsep pertanian organik ini tentunya kedepan bisa direplikasi ke petani lainnya,” ungkap Agus Amperianto.

Ia juga menyampaikan bahwa pendampingan petani oleh Pertamina ini dimulai sejak bulan Juli 2018. Saat itu ada 47 petani yang ikut pelatihan selama empat hari agar bisa menerapkan konsep pertanian organik. Hasilnya mereka sekarang bisa memanen padi organik perdana di persawahan yang sebelumnya digarap dengan pupuk kimia.

Bupati Djoko Nugroho pun merasa senang dan bangga terhadap hasil pertanian yang ada di Desa Bajo ini. Selain berterimakasih kepada Pertamina, Bupati juga ingin agar konsep pertanian SRI Organik ini bisa ditularkan se petani-petani lainnya agar Blora bisa lebih swasembada beras dan ramah lingkungan.

“Blora dalam setahun bisa memproduksi gabah sebanyak 600.000 ton, atau beras sebanyak 450.000 ton. Dari jumlah itu, yang dikonsumsi warga Kabupaten Blora hanya 23 persennya saja. Artinya 70 persen lebih kita jual keluar daerah. Jika hasil ini bisa ditingkatkan lagi dengan konsep SRI Organik maka saya yakin Blora akan menjadi lumbung padi yang lebih besar dan menyehatkan,” kata Bupati.

“Kepada Dinas Pertanian dan Petahanan Pangan, sampaikan kepada kelompok tani se Kabupaten Blora agar belajar ke Bajo. Saya ingin Bajo bisa menjadi rujukan untuk belajar pertanian organik,” lanjut Bupati disambut tepuk tangan petani.

Dalam kesempatan itu, Bupati juga menyoroti tingginya kasus stunting (kekerdilan-red) di Kecamatan Kedungtuban. Kecamatan yang selama ini menjadi lumbung padi, ternyata memiliki kasus stunting terbanyak.

“Penggunaan pupuk kimia yang berlebihan dalam menanam padi saya kira berpengaruh pada kualitas gizi beras yang dihasilkan. Maka dari itu ayo kira galakkan pertanian organik seperti di Desa Bajo ini. Apabila semuanya bisa melakukannya dengan baik, bukan tidak mungkin penggunaan pupuk kimia semakin berkurang, sawahnya semakin subur dan berasnya semakin menyehatkan. Semoga tidak stunting lagi,” tegas Bupati.

Pasalnya menurut Bupati kasus staunting merupakan bencana kemanusiaan. Kalau hanya miskin saja, maka otaknya masih bisa berfikir untuk membuka usaha. Namun kalau sudah stunting, tidak hanya badannya saja yang kerdil, namun otaknya juga. Sehingga daya pikirnya rendah, menjadi manusia yang bodoh akibat kekurangan gizi.

Terpisah, Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Kabupaten Blora, Ir. Reni Miharti M.Agr Bus, menyampaikan bahwa hasil pertanian SRI Organik di Desa Bajo ini cukup memuaskan. Selain hasilnya lebih banyak, biaya produksinya rendah.

“Saat ini harga gabah kering panen (GKP) per kilogramnya masih Rp 4.100 jika dipanen pakai alat perontok padi. Namun jika memakai combine harvester yang sudah ada blowernya, harganya lebih tinggi sekitar Rp 4.300 ke atas per kilogramnya,” ucap Reni Miharti.

Dengan harga segitu, menurutnya petani sudah mendapatkan keuntungan karena hasil total panen per hektarnya sudah naik lebih dari 1 ton dan modalnya sedikit karena pupuknya buat sendiri. Pihaknya berharap program ini bisa terus dilanjutkan dan ditularkan ke petani lainnya.

Turut hdair dalam kegiatan tersebut unsur Forkopimda Kabupaten Blora, perwakilan Dinas Kesehatan, Forkopimcam Kedungtuban dan Kepala Desa Bajo beserta masyarakatnya selaku tuan rumah. Acara diakhiri dengan sambutan-sambutan dan ramah tamah di Balaidesa Bajo. (Tim Berita Humas Protokol Setda Blora)

TERUS BERLANJUT, GILIRAN ASN DINAS PENDIDIKAN BORONG CABAI PETANI TAMBAHREJO

    13.34   No comments
Plt Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Blora, Drs. Sugiyanto, M.Si (tengah) bersama beberapa ASN di lingkup kerjanya membeli cabai dari petani langsung. Setidaknya dalam tahap awal ada 300 kilogram cabai dibeli, dan akan berlanjut. (foto: humas)
BLORA. Aksi penyelamatan harga cabai oleh ASN Kabupaten Blora di tingkat petani lokal yang anjlok saat musim panen terus berlanjut. Setelah Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan serta Setda memborong cabai petani Desa Purworejo, kini giliran ASN di lingkup Dinas Pendidikan memborong cabai merah segar dari petani Desa Tambahrejo, Kecamatan Tunjungan.

Selasa pagi (22/1/2019) sekitar pukul 09:00 WIB, ratusan kilogram cabai merah mulai diangkut menggunakan kendaraan bak terbuka dari Desa Tambahrejo menuju Dinas Pendidikan yang berada di Jl. Ahmad Yani nomor 42 Karangjati, Blora.

Setibanya di halaman Dinas Pendidikan, para petani dengan didampingi petugas dari Dinas Pertanian langsung menurunkan cabai yang telah dibungkusi dengan kantong plastik, untuk diserahkan kepada ASN.

Plt. Kepala Dinas Pendidikan, Drs. Sugiyanto, M.Si bersama Kepala Bidang Guru dan Tenaga Kependidikan, Endang Rukmiati, S.Pd, M.Pd, turun langsung memimpin pembelian cabai petani lokal ini bersama ASN di lingkungan kerjanya. Masing-masing ASN membeli minimal satu bungkus yang terisi 2 kilogram cabai merah.

Endang Rukmiati, S.Pd, M.Pd, selaku koordinator pembelian cabai menyampaikan bahwa pihaknya bekerjasama dengan Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan untuk menghubungkan dengan petani cabai. Sedangkan jumlah cabai yang dibeli hari ini sejumlah 3 kuintal atau 300 kilogram.

Sukardi, petani dari Desa Tambahrejo, Kecamatan Tunjungan sedang menurunkan cabai miliknya di halaman Dinas Pendidikan. (foto: humas)
“Pagi ini tahap pertama diantar sejumlah 200 kilogram yang dibungkusi masing masing dua kilogram, sehingga ada seratus bungkus itu langsung ludes terjual. Siang nanti akan menyusul 100 kilogram atau 50 bungkus lagi. Kemungkinan akan terus bertambah karena masih banyak yang memesan dan kurang, “ ucap Endang Rukmiati, S.Pd, M.Pd.

Untuk harga pembelian, disampaikan olehnya sebesar Rp 14.000,00 per kilogram. Selisih 4 ribuan diatas BEP cabai yang berada di harga Rp 10.000,00, sehingga petani diuntungkan. Sedangkan jika petani jual ke tengkulak hanya laku kisaran harga Rp 8.000,00 hingga Rp 9.000,00, atau mengalami kerugian, tidak menutup biaya produksi.

Drs. Sugiyanto, M.Si, mengatakan pembelian cabai ini merupakan kegiatan awal di lingkup Dinas Pendidikan, pasalnya masih banyak ASN guru dan tenaga kependidikan yang tersebar di masing-masing Kecamatan atau Koordinator Wilayah (Korwil) se Kabupaten Blora.

“Ini merupakan tindak lanjut dari arahan Bapak Bupati untuk menolong petani cabai yang sedang kesusahan menjual hasil panennya karena harga anjlok. Nanti masing-masing korwil akan kami minta ikut melaksanakan pembelian cabai di petani terdekat. Tidak hanya korwil Guru TK/SD, namun juga SMP. Tentunya tetap berkoordinasi dengan Dinas Pertanian, “ jelas Drs. Sugiyanto, M.Si.

Jika ribuan guru se Kabupaten Blora bisa ikut membeli cabai petani, bukan tidak mungkin kesejahteraan petani meningkat dan bisa mengembalikan harga di atas BEP.

Sukardi, petani cabai dari Desa Tambahrejo, Kecamatan Tunjungan, tepatnya Dukuh Tambak ampel merasa senang dan berterimakasih kepada Dinas Pendidikan yang telah memborong hasil panennya. Ia mengaku saat ini baru panen kedua, yang biasanya bisa panen hingga lebih dari 15 kali petik.

“Terimakasih Pak Bupati dan Dinas Pendidikan, jika masih ada pesanan kami siap mengirimkan kembali. Cabai yang saya tanam ada tiga jenis, yakni varietas Laba, Lajo dan Kiyo,” kata Sukardi. (Tim Berita Humas Protokol Setda Blora)

HARGA ANJLOK, ASN DINAS PERTANIAN BORONG CABAI PETANI LOKAL

    17.00   No comments
Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Kabupaten Blora, Ir.Reni Miharti, M.Agr.Bus memimpin kegiatan pembelian cabai merah dari petani Desa Purworejo Kecamatan Blora. (foto: humas)
BLORA. Anjloknya harga cabai merah saat musim panen disikapi Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Kabupaten Blora dengan memborong langsung dari petani. Jumat pagi (18/1/2019), beberapa petani dari Desa Purworejo membawa ratusan kilogram cabai merah segar yang baru saja dipetik ke Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan.

Setibanya di Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan, ratusan kilogram cabai merah segar dalam karung plastik langsung ditumpahkan di pelataran untuk dibungkusi dan dikemas masing-masing dua kilogram dan satu kilogram.

Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan, Ir. Reni Miharti M.Agr.Bus ikut langsung dalam proses pembungkusan cabai merah segar ini bersama sejumlah pegawai yang ada di kantornya, untuk kemudian dibagikan kepada seluruh ASN.

“Pembelian langsung dari petani ini sebagai salah satu upaya untuk menstabilkan harga cabai merah. Pasalnya harga beli para tengkulak ke petani hanya sekitar Rp 8.000,00 hingga Rp 9.000,00 per kilogram. Dengan harga segitu, petani merugi. Kami ingin menolong para petani,” ucap Ir. Reni Miharti, M.Agr.Bus.

Kali ini pihaknya membeli langsung ke petani dengan harga yang lebih layak, yakni Rp 14.000,00 per kilogramnya. Sehingga petani bisa mendapatkan keuntungan lebih besar.

“Sesuai arahan Bapak Bupati melalui Sekretaris Daerah yang meminta agar seluruh ASN ikut turun andil dalam penstabilan harga cabai dengan membeli langsung dari petani. Sehingga kami bersama-sama seluruh ASN mengawalinya dengan membeli 200 kilogram. Secara bertahap, dinas OPD lainnya juga akan melakukan hal yang sama,” lanjut Ir. Reni Miharti, M.Agr.Bus.

Jika hal ini berhasil dilakukan, diharapkan harga cabai kembali normal dan para tengkulak tidak seenaknya sendiri menentukan harga komoditas hortikultura. Sehingga petani bisa menikmati hasil panennya dengan baik.

Sukirno dan Fikri, para petani dari Gapoktan Bina Tani Desa Purworejo, Kecamatan Blora, yang mengantarkan cabai merah ke Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan mengaku senang karena hasil tanamannya bisa terbeli dengan harga tinggi sehingga bisa menikmati keuntungan.

“Kemarin tengkulak hanya memberi harga Rp 9.000,00 per kilogram. Tidak menutup biaya produksi, malah rugi. Alhamdulillah ini dipesan Dinas Pertanian dan dibeli dengan harga Rp 14.000,00 per kilogramnya sehingga sudah mendapatkan keuntungan,” ucap Sukirno.

Pihaknya berharap seluruh kantor yang ada di Kabupaten Blora bisa bersama-sama membantu petani dengan membeli cabai hasil panennya. Harga Rp 14.000,00 hingga Rp 15.000,00 itu menurutnya masih murah dan dibawah harga pasar, namun petani sudah untung.

“Di desa kami ada lahan cabai merah seluas 30 hektar yang semuanya mulai masa panen pertama. Jika semua cabai bisa dibeli langsung oleh para ASN di Kabupaten Blora, betapa senangnya para petani,” lanjutnya.

Dirinya menuturkan jenis cabai merah yang ditanam adalah varietas Lado dan Kiyo. Kualitasnya bagus dan berukuran besar. Jika masih ada yang mau beli, Sukirno selaku Ketua Gapoktan Bina Tani bersedia untuk menyediakan cabai merahnya. (Tim Berita Humas Protokol Setda Blora)

Humas Protokol Setda BloraBagian Humas Dan Protokol Sekretariat Daerah Kabupaten Blora Jl. Pemuda No.12 - 58215 Telp. (0296) 531028 ext.229 Email: humas.blorakab[at]gmail.com