![]() |
| Salah satu paguyuban seni barongan melakukan atraksi tarian ketika mengikuti parade, Sabtu (9/11/2019). (foto: humas) |
BLORA. Mendengar kata Blora, pasti
akan teringat Barongan, kesenian yang telah mendarah daging di Kabupaten paling
ujung Jawa Tengah ini. Ya, untuk meneguhkan diri sebagai Kota Barongan, Pemkab
Blora melalui Dinas Kepemudaan Olahraga Kebudayaan dan Pariwisata
(Dinporabudpar) kembali menggelar event Festival Barongan untuk kelima kalinya.
Tahun
ini, Festival Barongan Blora 2019 dilaksanakan sehari semalam, pada hari Sabtu
(9/11/2019) sejak pagi hingga malam hari. Mulai dari pameran barongan, parade
(arak-arakan) barongan, hingga pagelaran barongan.
Sejak
pagi, ribuan masyarakat dari berbagai kalangan (anak-anak, pemuda, orang tua),
semuanya memadati jalan utama Kota Blora yang menjadi rute parade untuk
menyaksikan berlangsungnya festival. Mulai dari kawasan Alun-alun Kota Blora,
sepanjang Jalan Pemuda, hingga Tugu Pancasila, dan berakhir di Jalan Ahmad Yani
(depan Graha Bethany).
Sambil
menunggu parade dimulai, masyarakat bisa menyaksikan pameran barongan di
Alun-alun. Yakni pameran yang menampilkan beragam topeng barongan Blora jaman
dahulu, dan perkembangannya hingga sekarang. Topeng barongan yang pada awal
tahun 90’an kerap dipakai adu gaprak.
![]() |
| Mewakili Bupati Djoko Nugroho, Wakil Bupati H. Arief Rohman M.Si dan Sekda Komang Gede Irawadi SE, M.Si menghadiri Festival Barongan Blora 2019. (foto: humas) |
Setelah
parade mulai berjalan, satu persatu grup atau paguyuban seni barongan dari
berbagai wilayah se Kabupaten Blora melakukan pertunjukan di sepanjang rute
yang telah ditetapkan. Adapun panggung kehormatan didirikan di depan Klenteng
TITD Hok Tik Bio Blora. Tampak hadir Wakil Bupati H. Arief Rohman, M.Si,
jajaran Forkopimda, Sekda, dan Kepala OPD terkait.
Kepala
Dinporabudpar, Slamet Pamudji SH, M.Hum dalam laporannya menyampaikan bahwa
parade barongan kali ini diikuti oleh 31 tim atau paguyuban seni barongan dari
seluruh wilayah Kabupaten Blora.
“Hingga
hari H pelaksanaan, ada 31 paguyuban yang mendaftar sebagai peserta. Mereka
tampil selama 3 menit di depan panggung kehormatan. Selain itu di sepanjang
rute juga melakukan atraksi untuk menghibur masyarakat,” ucap Slamet Pamudji.
Menurutnya,
digelarnya festival barongan ini sebagai wujud dukungan pemerintah dalam upaya
pelestarian kesenian daerah, dan untuk meningkatkan rasa cinta kepada seni
budaya lokal yang telah menjadi tradisi.
![]() |
| Satu per satu paguyuban seni barongan berjalan menyusuri rute parade mulai Alun-alun menuju Jalan Pemuda, Tugu Pancasila dan berkahir di depan Graha Bethany. (foto: humas) |
“Yang
tidak kalah penting, festival ini untuk menarik jumlah kunjungan wisata budaya
di Kabupaten Blora, serta sebagai wadah silahturahmi para seniman barongan.
Kita berharap adanya festival ini juga bisa menumbuhkan industri ekonomi
kreatif,” lanjutnya.
Usai
tampil di depan panggung kehormatan, masing-masing paguyuban melanjutkan
pertunjukkan dengan berjalan menuju finish di depan Graha Bethany. Cuaca yang
cerah dan relatif panas pun tidak menyurutkan semangat masyarakat untuk
menonton festival. Bahkan banyak penonton rela membawa payung dari rumah sambil
menggendong anaknya.
“Sudah
lama ingin nonton festival barongan, biasanya hanya di desa saja saat
Agustusan. Kalau ini kan tingkat Kabupaten, pastinya lebih ramai mas. Disamping
itu juga lebih banyak pesertanya, inilah kesenian Blora yang harus terus
dilestarikan,” ucap Purwanti, salah satu penonton dari Kecamatan Kedungtuban.
Sementara
itu, pimpinan paguyuban Seni Barongan Blora “Kumara Krida Mustika”, Indra Bagus
Kurniawan, dari Dukuh Triteh, Desa Tambahrejo, Kecamatan Tunjungan mengaku
senang bisa ikut memeriahkan Festival Barongan Blora 2019 bersama
teman-temannya.
“Beberapa
hari lalu mulai latihan lagi untuk mematangkan garapan musik (gamelan), dan
kemarin hingga semalam menata alat di gerobak untuk dibawa ke Blora. Kalau
untuk kemajuan Barongan Blora, kami tidak memikirkan untung rugi. Ini
festivalnya kita semua untuk mengangkat nama baik Blora, jadi ya harus all out.
Beda lagi kalau tanggapan,” terang Indra, sambil senyum.
Wakil
Bupati H. Arief Rohman, M.Si yang berkesempatan turun dari panggung untuk foto
bersama dengan para seniman, mengaku senang dengan perkembangan seni budaya
khas Blora ini.
“Mewakili
Bapak Bupati, kami sampaikan salam hormat kepada seluruh seniman yang terlibat.
Semangatnya luar biasa untuk melestarikan kesenian Barongan Blora agar kedepan
bisa lebih maju. Dengan Festival Barongan ini, kami berharap identitas Blora
Kota Barongan semakin kuat. Festival seperti ini akan kita teruskan sebagai
agenda tahunan, yang mana tahun ini sudah menginjak tahun kelima,” terang Wakil
Bupati.
Menurut
Wakil Bupati, adanya festival seni budaya seperti ini juga bisa untuk mendukung
industri pariwisata di Kabupaten Blora.
“Tadi
saat saya berjalan menuju panggung kehoramatan dari rumah dinas, bisa dilihat
di sepanjang rute, ekonomi masyarakat berputar, jasa parkir banyak, pedagang
kaki lima laris manis, sektor kuliner menggeliat, bahkan tempat penginapan juga
bisa meningkat huniannya jika dikemas lebih baik lagi selama beberapa hari. Ini
potensi yang harus terus digarap dengan baik,” lanjut Wakil Bupati.
![]() |
| Tampil kompak para penabuh dari paguyuban seni barongan Kumara Krida Mustika. (foto: humas) |
Pihaknya
ingin seluruh potensi seni budaya yang ada di Kabupaten Blora bisa dikemas
menjadi daya tarik wisata melalui beragam bentuk festival.
Setelah
parade usai pukul 13.00 WIB, malam harinya 19.00 WIB dilanjutkan dengan pentas
pagelaran barongan. Bertempat di panggung terbuka Stadium Seni Budaya Taman
Tirtonadi, acara dimerihkan dengan penampilan grup kesenian Topeng Ireng dari
Boyolali, grup kesenian Barongan Samin Edan dari Unnes Semarang, dan ditutup
dengan penampilan grup kesenian Barongan Risang Guntur Seto dari Kelurahan
Kunden, Blora.
Acara
berlangsung meriah hingga tengah malam, begitu pun animo masyarakat yang tidak
terbendung membuat arena pertunjukkan penuh sesak.
Untuk
diketahui, seni barongan bagi masyarakat Blora merupakan seni pertunjukan
tradisional yang sudah ada sejak ratusan tahun lalu. Menurutu cerita lisan
masyarakat Blora, Barongan sendiri merupakan sosok jelmaan Gembong Amijoyo,
harimau penjaga alas jati wengker (hutan jati) yang di dalamnya menyimpan
banyak kekayaan alam.
Kesenian
barongan, dahulu hanya dipakai untuk kepentingan acara adat seperti tradisi
ruwatan, tolak bala, sedekah bumi, dan lamporan. Namun kini sudah berkembang
menjadi seni pertunjukan rakyat yang kerap dimainkan dalam berbagai acara
hajatan, pentas kemerdekaan hingga event seni budaya.






Tidak ada komentar:
Write komentarTinggalkan komentar anda