| Mbah Waki (kiri), sosok pelestari makanan tradisional Tempe Godong Jati yang tetap semangat mempertahankan kualitas tempenya dengan ragi organik dari daun jati. (foto:humas) |
BLORA. Tempe sebagai salah satu
makanan khas Indonesia yang telah mendunia memang sudah banyak dikenal orang.
Namun di Blora ada tempe yang sangat khas, yakni Tempe Godong Jati (tempe yang
dibuat dengan cara tradisional menggunakan daun jati). Daun jati tidak hanya
sebagai pembungkus namun juga dicampur dengan ragi tempe sebagai bahan perekat
kedelai.
Rasanya
sangat khas dan bebas unsur kimia, serta ramah lingkungan karena tidak ada
penggunaan unsur plastik sedikitpun. Salah satu pembuat tempe godong jati yang
masih bertahan hingga kini adalah Mbah Painem yang lebih akrab disapa Mbah Waki
(nama suaminya), di Dukuh Banaran, Kelurahan Randublatung, Kecamatan
Randublatung.
Di
usianya yang sudah menginjak 70 tahun lebih, Mbah Waki yang tinggal seorang
diri di rumahnya tetap semangat membuat tempe godong jati setiap hari. Ketika
ditemui Wakil Bupati Blora, H. Arief Rohman M.Si, Kamis (8/8/2019) lalu, Mbah
Waki sedang sibuk membungkusi tempe yang merupakan pesanan para pedagang.
“Nggih
ngeteniki mbendintene ndamel tempe. Bungkusi ngangge ron jati, sakderenge
dingge bungkus, dicoblosi riyin kersane jamure saged medal trus nempel ing ron
jati. Ron jati sing enten jamure niki sing dados ragine, mengke digaringke trus
digerus lembut kangge campuran dele,” jelas Mbah Waki dalam Bahasa Jawa.
(Ya
begini setiap harinya buat tempe. Membungkus pakai daun jati, sebelum dipakai
membungkus lebih dahulu dilubangi kecil biar jamurnya bisa keluar lalu nempel
pada daun jati. Nantinya daun jati yang ada jamur tempenya ini yang
dimanfaatkan jadi ragi organik, dikeringkan lalu dihancurkan lembut untuk
campuran kedelai – red)
Menurut
pengakuan Mbah Waki, setiap harinya ia membuat tempe dari kedelai sebanyak 8
kilogram. Dari 8 kilogram kedelai itu, jika dibungkusi bisa menjadi 45 gendelan
(bendel) tempe yang setiap gendelannya berisi 10 bungkus tempe daun jati.
“Setiap
hari sudah diambili pedagang yang kulakan, sudah pesanan semua. Jadinya jarang
berjualan ke pasar,” lanjut Mbah Waki jika diterjemahkan dalam Bahasa
Indonesia.
Ketika
banyak penjual tempe beralih menggunakan bungkus plastik, Mbah Waki lebih
memilih untuk tetap menggunakan daun jati meskipun ketika kemarau seperti ini
agak susah mendapatkan daun jati karena meranggas. Disamping lebih mudah untuk
membungkus, rasanya pun menurutnya lebih enak daripada pakai bungkus plastik.
“Saya
mulai buat tempe sejak 50 tahun lalu, awalnya diajari para tetangga. Dulu
disini banyak perajin tempe, tetapi sekarang sudah habis. Tinggal sedikit,
salah satunya saya,” ucap Mbah Waki.
| Dewi (kiri) salah satu pelaku kuliner dari Yogyakarta datang ke Randublatung, Blora karena tertarik mempromosikan Tempe Godong Jati khas Blora. (foto: humas) |
Originalitas
dan proses pembuatan tempe yang alami inilah yang berhasil menarik perhatian
Wakil Bupati untuk ikut belajar dan mengenali cara buat tempe ala Mbah Waki.
Wakil Bupati diajari cara mengaduk adonan kedelai dan cara membungkus kedelai
memakai daun jati.
“Zaman
sekarang makanan tradisional yang diolah dengan cara alami sangat diminati
pecinta kuliner dari berbagai daerah bahkan mancanegara, apalagi prosesnya zero
waste atau bebas plastik sehingga ramah lingkungan. Seperti Mbah Waki ini harus
tetap dijaga dan diwariskan kepada generasi muda agar lebih banyak lagi yang
meneruskan proses pembuatan tempe godong jati khas Blora ini, “ ucap Wakil
Bupati.
Dewi,
salah satu tetangga Mbah Waki yang kini berprofesi sebagai entrepreneur muda
dan pelaku bisnis sekaligus pakar kuliner di Yogyakarta, mengaku sangat
tertarik untuk mendokumentasikan dan mempromosikan tempe daun jati buatan Mbah
Waki ke dunia internasional.
“Mbah
Waki ini bisa dikatakan sebagai the legend of Tempe Daun Jati khas Blora. Oleh
karena itu harus kita dokumentasikan agar bisa dipromosikan untuk dikenali
masyarakat luas. Ini salah satu potensi Blora yang harus dijaga dan bisa
menjadi daya tarik kuliner tradisional Kabupaten Blora,” jelas Dewi.
Bahkan
menurut Dewi, Pakar Kuliner Indonesia William Wongso mulai tertarik dan ingin
ke Blora melihat proses pembuatan Tempe Godong Jati ala Mbah Waki. Dimana beberapa
waktu lalu pernah ia ceritakan ke hal ini ke William Wongso.
“Kita
akan mendukung upaya ini agar Tempe Godong Jati khas Blora buatan Mbah Waki
semakin terkenal dan mendunia. Aamiin.. Pengen ikut buat tempe? Ayo ke Mbah
Waki, Ayo #DolanBlora,” tutup Wakil Bupati. (Tim Liputan Humas Protokol Setda
Blora)


Tidak ada komentar:
Write komentarTinggalkan komentar anda